[ ]
Latest News Updates

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

By Admin | Senin, 09 Desember 2013 | Posted in | With 0 comments

Pelukan, meskipun hanya dilakukan sebentar, ternyata mendatangkan banyak manfaat bagi suami istri. Berikut ini adalah tiga diantara sekian banyak manfaat pelukan bagi suami istri beserta penjelasan ilmiahnya:

1. Menenangkan
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari gua Hira seusai menerima wahyu pertama, beliau menggigil seperti demam. “Zammilunii... zammiluni...” kata beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Pada saat itu Rasulullah mengkhawatirkan dirinya, namun dengan dukungan sang istri, kekhawatiran itupun sirna.

“Saat tubuh merasakan sentuhan, nueotransmitter di otak akan mengirimkan hormon Endormorfin ke dalam aliran darah dengan jumlah cukup besar. Hormon tersebut mampu menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah” tulis Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family.

Demikianlah, Anda juga bisa mempraktekkannya. Jika suami Anda kalut, galau, atau menghadapi masalah, peluklah ia. Sebagai istri, Anda adalah orang yang paling berhak menenangkannya. Buktikan bahwa diri Anda adalah perhiasan terbaik di muka bumi.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Demikian pula jika istri Anda menghadapi masalah atau mengkhawatirkan buah hatinya, yang sedang sakit misalnya. Pelukan Anda akan membantu menenangkan dirinya.

2. Memberikan dukungan
Sebuah penelitian yang dilakukan University of California membuktikan, suami istri yang saling berpegangan tangan dan bersentuhan dapat mengurangi rasa sakit. Penelitian lain menunjukkan, berpelukan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memberikan semangat.

Pepatah Arab mengatakan, “Di balik pahlawan besar selalu ada perempuan agung.” Maka jika Anda menginginkan suami berprestasi dan menjadi pahlawan, dukungan Anda adalah salah satu kuncinya. Dukungan tidak selalu harus berupa kata-kata. Terlebih bagi banyak pria, mereka kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Maka sedikit kata yang kau bisikkan disertai pelukan akan menjadi salah satu dukungan dan motivasi besar baginya.

“Perempuan bagi banyak pahlawan,” kata Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia, “adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali di dalam rumah.”

3. Mendekatkan hubungan
Terkadang, sulit bagi suami istri yang sedang marahan atau berselisih untuk memulai meminta maaf dengan kata-kata. Nah, jika Anda saat ini sedang ada “masalah”dengan istri atau suami Anda, dekatilah ia. Kemudian peluklah ia. Jika bibir belum mampu bicara banyak, cukup kalimat singkat “Maafkan aku sayang.”

Pelukan seperti ini tentu saja tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadi konflik. Pelukan yang rutin dilakukan oleh suami istri akan semakin mendekatkan hubungan keduanya. Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/01/3-manfaat-pelukan-bagi-suami-istri.html

By Admin | Jumat, 30 Agustus 2013 | Posted in | With 0 comments


Hingga saat ini, banyak Muslim yang beranggapan bahwa ketika suami istri berjima’, mereka harus menutupi tubuhnya alias tidak diperbolehkan telanjang. Umumnya, anggapan ini dilandasi oleh dua hadits berikut ini.

Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah. 
“Jika seseorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, maka hendaklah menutupi tubuhnya, dan janganlah bertelanjang bulat seperti telanjangnya dua khimar.” 

Kedua, hadits riwayat Tirmidzi.
”Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah...”

Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan dua hadits tersebut? Salim A. Fillah di dalam bukunya Bahagianya Merayakan Cinta menjelaskan bahwa hadits pertama (yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah) adalah dhaif. Dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim dan Walid bin Al Qasim Al Hamdani, keduanya dhaif. Bahkan, An Nasa’i memberi catatan: “hadits ini mungkar.”

Sedangkan hadits kedua (riwayat Tirmidzi), sesungguhnya tidak bisa dijadikan alasan suami istri harus menutup tubuhnya dengan selimut atau semisalnya saat berjima’ dikarenakan malu dengan makhluk lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Padahal, di dalam hadits itu telah ada jawabannya. Yakni kelajutan hadits tersebut yang sering tidak diketengahkan secara lengkap.

“Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah kecuali di saat kalian membung hadats di jamban dan ketika seorang suami mendatangi istrinya” (HR. Tirmidzi).

Salim A. Fillah kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat berikut: “Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Ia menghendaki kemudahan bagi mereka. Ketika seorang hamba bersama istrinya telah menutup diri dari pandangan manusia di dalam satu bilik di rumahnya, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan hal yang menyulitkan dan memberatkan seperti memakai selimut. Karena bisa jadi selimut akan mengganggu jika hendak berekspresi dan berkreasi. Padahal yang demikian adalah hak yang Allah berikan pada mereka berdua untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya.”

Wallahu a’lam bish shawab. [IK/bersamadakwah]

sumber : http://www.bersamadakwah.com/2013/08/haruskah-suami-istri-menutupi-tubuh.html

By Admin | Selasa, 27 Agustus 2013 | Posted in | With 0 comments

Tahukah anda, apa perbedaan antara pengantin baru dengan pengantin lama? Pertanyaan itu sangat banyak jawabannya. Berikut ini, adalah jawaban “konon” semuanya. Hati-hati dan perhatikan, jangan sampai terjadi pada keluarga anda.

Jawaban pertama, dari segi bau. Pengantin baru baunya wangi, sedangkan pengantin lama bau minyak kayu putih.

Jawaban kedua, dari segi cara tidur. Pengantin baru tidurnya berhadapan dan saling berpelukan, pengantin lama tidur berpunggungan dan dipisahkan oleh guling.

Jawaban ketiga, dari ucapan sebelum tidur. Pengantin baru, “Selamat tidur sayangku, mimpi indah ya…” Pengantin lama, “Geser dikit dong, masak tidur dempet-dempetan gini, kayak naik mikrolet aja….”

Jawaban keempat, ketika kaki terantuk batu. Pengantin baru, “Hati-hati sayang… Mana yang sakit?” Pengantin lama, “Kalau punya mata dipakai dong, batu segede itu masak ditabrak”.
Jawaban kelima, saat nonton TV. Pengantin baru, “Pengin nonton apa sayang?” Pengantin lama, “Jangan diganti dong chanelnya, gak bisa lihat orang senang apa….”

Jawaban keenam, dari cara dialog. Pengantin baru, dialognya seperti ini.

Suami : Aku sudah menunggu saat seperti ini sejak lama. Akhirnya kesampaian juga.
Isteri : Apakah kau rela kalau aku pergi meninggalkanmu?
Suami : Tentu tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu.
Isteri : Apakah kau benar-benar mencintaiku?
Suami : Tentu! Selamanya akan tetap begitu.
Isteri : Apakah kau pernah selingkuh?
Suami : Tidak! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu.
Isteri : Maukah kau menciumku?
Suami : Ya.
Isteri : Hmmmmm…. Sayangku…..
Adapun pengantin lama, cara membaca dialog tersebut dibalik, dari bawah ke atas.

*****************

Anda tentu pernah membaca humor di atas, karena sudah banyak diposting di berbagai blog dan milis. Sebuah sindiran dengan jalan humor, dan kita bisa tertawa membacanya.

Sebentar, jangan asal tertawa. Kalau anda tidak merawat cinta kasih dalam keluarga, humor-humor tersebut bisa menjadi kenyataan dalam kehidupan anda. Maka selalu rawat dan sirami cinta kasih dalam keluarga anda, selamanya anda akan menjadi pengantin baru…..

sumber : http://pakcah.org/enam-perbedaan-pengantin-baru-dan-pengantin-lama/

By Admin | Jumat, 26 Juli 2013 | Posted in | With 0 comments

Salah satu kunci keluarga sakinah adalah adanya cinta dan kasih sayang suami dan istri yang dibangun di atas spirit saling membahagiakan. Di bawah ini adalah 17 tips bagi istri agar bisa membahagiakan suami. Tips ini merupakan ringkasan dari buku How to Make Your Husband Happy, karya Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid.
1. Sambutan yang manis
a. Sekembalinya suami dari bekerja, dinas luar kota, bepergian, atau   kemana pun dia pergi, sambutlah dia dengan baik.
b. Temui dia dengan wajah riang gembira.
c. Bersolek dan pakailah wewangian.
d. Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup.
e. Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu.

2. Percantiklah dirimu dan rendahkan suaramu
Usahakan agar Anda selalu tampil cantik dan merendahkan suara di hadapannya. Lakukanlah hal itu hanya untuk suami Anda, dan jangan menampakkan kecantikan Anda di hadapan laki-laki yang bukan mahram (laki-laki yang layak untuk engkau nikahi jika engkau belum menikah).

3. Senantiasa tampil mewangi dan selalu cantik
a. Rawatlah dengan baik tubuh dan kebugaran jasmani Anda.
b. Kenakanlah pakaian-pakaian yang menarik dan pakailah parfum yang aromanya disukai suami Anda.
c. Mandilah secara teratur. Apabila telah bersih dari haid, bersihkanlah setiap bekas darah atau bau tak sedap.
d. Gunakanlah jenis parfum, warna-warna, dan pakaian yang disenangi suami Anda.
e. Ubahlah gaya rambut, parfum, dan lainnya dari waktu ke waktu untuk menghindari kejenuhan.
Bagaimanapun, semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram.
�semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram�

4. Ketika melakukan hubungan intim.
a. Bergegaslah untuk melakoni hubungan intim ketika suami Anda merasa sangat berhasrat untuk melakukannya.
b. Jagalah kebersihan tubuh dan senantiasa tampil harum semaksimal mungkin. Pun demikian, jangan lupa untuk membersihkan setiap cairan yang keluar selama berhubungan intim.
c. Lontarkan ungkapan-ungkapan cinta yang mesra kepada suami Anda.
d. Biarkan suami Anda untuk memuaskan gairahnya.
e. Pilihkan waktu yang sesuai dan kesempatan yang baik untuk memuaskan suami. Beri dia stimulus untuk berhubungan intim sepulangnya dia dari perjalanan jauh yang memakan waktu lama.

5. Merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan melalui suami.
a.  Anda jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan dan karir yang biasa-biasa saja.  Selama Anda dan suami dekat Allah �Sang Pemberi rezeki�, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya.
b. Anda mesti melihat orang-orang sekeliling yang miskin, sakit, cacat, dan lainnya. Lantas bandingkan dengan semua yang telah Allah karuniai kepada Anda dan keluarga.
c. Ingatlah selalu bahwa kekayaan sejati terletak pada tingginya keimanan dan keshalihan. Dua hal itu merupakan investasi terbaik untuk menjalani kehidupan yang kekal kelak.
�jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah Sang Pemberi rezeki, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya�

6. Jangan pusing dengan hal-hal keduniaan.
a. Jangan menjadikan hal-hal duniawi sebagai harapan dan minat Anda.
b. Anda tak perlu banyak memohon kepada suami Anda hal-hal yang tidak penting.
c. Kendati demikian, hidup zuhud bukan berarti tidak boleh menikmati hal-hal yang baik dan dibolehkan (baca: dihalalkan) syariat Islam. Namun pastinya, Anda harus memprioritaskan kehidupan akhirat kelak, dan memanfaatkan semua sarana dan faktor-faktor yang dapat memberikan keuntungan di surga.
d. Doronglah suami Anda untuk meminimalkan pengeluaran untuk hal-hal tidak penting, dan doronglah dia untuk menabung agar bisa memberi sedekah dan zakat kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

7. Bersyukur dan memberikan apresiasi.
a. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, mayoritas penghuni neraka adalah wanita, dikarenakan mereka tidak bersyukur.
b. Hasil dari rasa bersyukur adalah suami Anda akan lebih mencintai Anda, dan dia akan berupaya keras untuk membahagiakan Anda dengan beragam cara.
c. Sementara dampak dari tidak bersyukur adalah suami Anda akan kecewa, lantas mulai bertanya, �Mengapa saya harus berbuat baik kepada istri saya, sementara dia tidak pernah bersyukur dan hormat?!�

8. Kesetiaan dan ketaatan.
a. Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan.
b. Dukunglah suami Anda dengan apa pun yang Anda miliki (baik materi ataupun non-materi).
�Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan�

9. Memenuhi permintaan suami.
a. Penuhilah permintaan suami dan taatilah semua permintaan-permintaannya, jika memang tidak menyelisihi Al-Qur�an dan Sunnah Rasulullah SAW.
b. Dalam Islam, suami adalah pemimpin keluarga, dan istri adalah penyokong dan konsultan baginya.

10. Jika suami marah, buatlah dirinya merasa lega.
Hindari dan jauhi hal-hal yang bisa membuat marahnya berkepanjangan. Namun jika ternyata marahnya berkepanjangan, dan  Anda tidak bisa �menjinakkannya�, maka cobalah untuk menenangkannya dengan langkah-langkah berikut:
a. Jika Anda bersalah dan melakukan kekeliruan, maka mintalah maaf kepadanya.
b. Namun jika dia yang melakukan kesalahan, maka Anda harus tetap bersikap tenang, jangan mengkritiknya dengan pedas, mendebat, menentang, atau bahkan berteriak. Tunggulah sampai kemarahannya mereda, lalu diskusikan segala sesuatunya secara damai.
c. Kemudian jika dia marah dikarenakan faktor-faktor eksternal, maka ada baiknya Anda diam, sampai kemarahannya sirna. Lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya marah; apakah kelelahan, problem di kantor, ada orang yang menghinanya, dan lain sebagainya. Dan jangan banyak bertanya, namun fokus pada apa-apa yang membuatnya marah. Anda bisa bertanya kepadanya, �Kamu harus memberitahu kepadaku apa yang terjadi?�, �Aku harus tahu apa yang membuatmu marah?�, atau �Kamu membunyikan sesuatu, dan aku punya hak untuk tahu apa itu�.

11. Menjaga diri ketika suami tidak ada.
a. Jagalah diri Anda dari segala hubungan yang diharamkan.
b. Jaga setiap rahasia-rahasia keluarga, terutama yang berkenaan dengan hubungan suami-istri.
c. Menjaga rumah dan merawat anak-anak.
d. Menjaga uang dan segala harta bendanya.
e. Jangan sekali-kali keluar rumah tanpa izin suami, dan tanpa mengenakan hijab (jilbab) yang rapih.
f. Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada.
g. Jangan biarkan laki-laki non-mahran berduaan dengan Anda di mana pun.
�Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada�

12. Tunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman-temannya.
a. Anda harus menyambut dan bersikap baik kerabat dan teman-teman suami Anda, terutama kedua orangtuanya.
b. Sebisa mungkin Anda harus menghindari masalah dengan para kerabatnya.
c. Anda harus menghindari memojokkan suami Anda ke posisi di mana dia harus memilih antara ibu dan istrinya secara dilematis.
d. Tunjukkan keramahtamahan Anda kepada tamu-tamunya, dengan cara menyiapkan tempat yang menyenangkan kepada mereka untuk duduk, menyajikan makanan yang paling baik, menyambut istri-istri mereka, dan lain sebagainya.
e. Dorong suami Anda agar secara rutin bersilaturahim ke kerabat keluarganya, dan agar mereka mengunjungi rumah Anda.
f. Telponlah orangtua suami Anda, kakak-kakak dan adik-adiknya; kirimi mereka surat, beri mereka hadiah, bantu mereka ketika terkena musibah, dan lainnya.

13. Kecemburuan yang terpuji.
a. Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam. Dalam artian, Anda boleh saja cemburu, tapi jangan sampai kecemburuan Anda dibarengi dengan caci-maki atau ghibah kepada orang lain.
b. Jangan mengikuti atau menciptakan keraguan-keraguan tidak mendasar di dalam diri Anda terkait suami Anda.
�Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam�

14. Kesabaran dan dukungan emosional.
a. Bersabarlah ketika Anda dan suami menghadapi kemiskinan dan keadaan-keadaan yang menegangkan.
b. Bersabarlah ketika musibah atau malapetaka menimpa Anda, suami, anak-anak, kerabat, atau harta benda Anda, baik musibah penyakit, kecelakaan, kematian, dan lain-lain.
c. Bersabarlah ketika suami Anda menerima tantangan dan rintangan dalam berdakwah (seperti diintimidasi, disiksa, dipenjara, atau bahkan dibunuh). Dukung dan kuatkan selalu suami Anda agar senantiasa berada di atas rel ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan selalu ingatkan dia akan surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang bertauhid lurus.
d. Jika suami Anda memperlakukan Anda secara tidak baik, maka bersabarlah dan balaslah perlakuan buruknya dengan perlakuan baik.

15. Mendukung suami untuk taat kepada Allah, berdakwah, dan berjihad fi sabilillah.
a. Bekerjasamalah dengan suami Anda dan ingatkan dia untuk melaksanakan berbagai ibadah wajib dan sunnah.
b. Dorong suami Anda agar melaksanakan shalat tahajud.
c. Ajak dia untuk rutin membaca Al-Qur�an dan memahami makna serta tafsirnya.
d. Ajak suami Anda untuk mendengarkan ceramah-ceramah keislaman.
e. Ingatlah selalu Allah.
f. Pelajarilah hukum-hukum dan ajaran Islam untuk muslimah.
g. Dukunglah aktivitas suami dengan memberinya berbagai opini bijak, dan redakanlah rasa sakitnya.
h. Luangkanlah waktu Anda untuk melakukan dakwah bersama suami.
i. Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan.
j. Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah.
�Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan. Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah�

16. Merawat rumah dengan baik.
a. Upayakan agar rumah selalu bersih dan tertata dengan baik.
b. Ubahlah tata letak barang-barang di rumah Anda dari waktu ke waktu untuk menghindari kebosanan.
c. Pelajari semua skill pemeliharaan rumah.
d. Pelajari bagaimana merawat anak-anak secara baik berdasarkan ajaran Islam.

17. Mengatur keuangan keluarga.
a. Jangan membelanjakan uang suami Anda, bahkan untuk berderma sekalipun, tanpa meminta izin darinya.
b. Rawatlah rumah, kendaraan, dan barang-barang pribadi suami, ketika dia tidak ada di rumah.

�Upayakan agar anak-anak senantiasa ada dalam kondisi bersih, rapih, terawat, berpendidikan, berakhlak baik, dan lain sebagainya. Ajarkan kepada mereka prinsip-prinsip Islam yang luhur; ceritakan juga kisah-kisah para nabi, sahabat Rasul, serta orang-orang shaleh terdahulu�

Kontributor: Zulkifli Abdul Khair

(zafaran/muslimahzone.com)

By Admin | Minggu, 14 Juli 2013 | Posted in | With 0 comments


Seorang sahabat menulis pertanyaan seperti ini kepada saya : �Kegiatan-kegiatan yang saya lakukan semuanya atas nama dakwah. Namun sering kali melalaikan tugas sebagai kepala keluarga. Mohon masukannya�.

Sangat menarik pertanyaannya. Kalau istilah pak Mario Teguh, �super sekali�. Pertanyaan yang sebenarnya mewakili banyak kalangan aktivis dakwah. Ada kondisi paradoks, satu sisi �merasa� sibuk dengan berbagai kegiatan dakwah, namun di saat yang sama melalaikan peran sebagai kepala rumah tangga.

Syumuliyah Dakwah

Pertama kali yang harus dipahami adalah makna dakwah dan syumuliyah dakwah. Sebagaimana kita ketahui, dakwah adalah usaha mengajak manusia menuju nilai-nilai kebaikan sesuai tuntunan Ketuhanan dan petunjuk Kenabian. Maka aktivitas dakwah mencakup aspek yang sangat sangat sangat luas. Usaha membahasabumikan nilai-nialai langit, bisa kita wujudkan dalam beragam aktivitas.

Selama ini sebagian masyarakat memahami dakwah dalam konteks yang sempit, misalnya ceramah, khutbah, tabligh akbar, pengajian dan lain sebagainya. Seakan dakwah itu maknanya hanyalah forum atau mimbar untuk berbicara. Padahal dakwah itu adalah hal bagaimana nilai-nilai kebaikan bisa direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Bukan soal ceramah atau khutbah, namun soal merealisasikan kebajikan dalam kehidupan nyata.

Oleh karenanya dakwah bersifat syamil, utuh menyeluruh. Syumuliyah dakwah, adalah adalah pandangan tentang keutuhan dakwah, tanpa membuat dikotomi yang tidak perlu antara peran �publik� dan �domestik�. Antara peran di dalam dan di luar rumah. Antara peran sebagai kepala rumah tangga dengan kepala desa. Antara peran sebagai orang tua dengan peran sebagai pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya.

Mengurus Rumah Tangga Adalah Dakwah

Dalam konteks syumuliyah dakwah, kita memahami dakwah itu ada yang di dalam rumah, ada pula yang di luar rumah. Dakwah di dalam rumah adalah membina keluarga, mendidik anak, menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Jika keluarga harmonis, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, seluruh anggota keluarga mentaati aturan Allah dan Rasul, maka itulah keberhasilan dakwah di dalam rumah.

Sedangkan dakwah di luar rumah bisa berupa berbagai aktivitas kemasyarakatan, sosial, politik, seni, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya, yang mengajak masyarakat menuju keluhuran diri, ketinggian pekerti, dan kekuatan nurani. Perbaikan individu, keluarga, masyarakat dan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi fokus dari aktivitas dakwah kita di luar rumah.

Keduanya, dakwah di dalam rumah dan di luar rumah, harus sukses dan berhasil. Jangan hanya berorientasi keberhasilan di salah satu sisi, namuan keduanya harus diperjuangkan untuk mendapatkan keberhasilan.

Maka tidak ada dikotomi, �saya berdakwah di luar rumah, dan di dalam rumah itu bukan dakwah�. Itu adalah pemahaman yang keliru dalam konteks syumuliyah dakwah. Justru dakwah itu mencakup peran yang harus kita jalankan di dalam rumah, dan peran yang harus kita lakukan di luar rumah. Keduanya adalah aktivitas dakwah.

Semoga kita semua mampu untuk mencapai kesuksesan dakwah di dalam dan di luar rumah.

(Ust Cahyadi Takariawan)

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/07/dakwah-sukses-rumah-tangga-beres.html

By Admin | Kamis, 20 Juni 2013 | Posted in | With 0 comments

Para orangtua diimbau untuk waspada terhadap pola kosumsi anak-anak mereka terhadap media khususnya televisi. Menurut data, hampir 40% penonton televisi adalah anak-anak atau usia anak dan mereka juga terbilang kelebihan menonton televisi yakni 35 jam selama seminggu. Merujuk angka tersebut, hal ini sangat mengkhawatirkan jika tayangan yang disaksikan anak itu membawa efek jelek bagi mereka.

Imbauan tersebut disampaikan Komisioner KPI Pusat, Yazirwan Uyun, dalam pembekalan materi soal tayangan anak bagi tenaga pemantaun isi siaran daerah di Pelatihan Pemantauan Isi Siaran di Hotel Grand Mercure, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2013 kemarin.

Menurut penelitian tersebut, lanjut Iwan, panggilan akrab Komisioner bidang Perizinan KPI Pusat ini, anak mempunyai sifat cenderung imitasi terhadap isi siaran terlebih pada tayangan anak. Karenanya, para orangtua harus ekstra pengawasan sekaligus memberi bimbingan pada anak-anaknya untuk mereka paham dan mengerti sekaligus bisa memilih tayangan yang baik buatnya.

Dalam P3 dan SPS KPI tahun 2012, KPI telah mengatur secara rinci bagaimana tayangan yang baik dan benar. Terkait aturan tersebut, KPI mencatat ada 5 Jenis kategori pelanggaran yang terjadi terhadap P3 dan SPS dalam program anak dan kartun yakni:

Pertama, unsur kekerasan yaitu isi siaran yang menampilkan tindakan verbal dan/atau non verbal yang menimbulkan rasa sakit secara fisik, psikis, sosial bagi korban kekerasan.

Kedua, unsur mistik dan supranatural yaitu isi siaran yang menampilkan tindakan verbal dan/atau non verbal yang menunjukkan kondisi/keadaan diluar batas kemampuan manusia.

Ketiga, unsur seksual yaitu isi siaran yang menampilkan tindakan verbal dan/atau non verbal yang menunjukkan ataumelampiaskan hasrat seksual.

Keempat, unsur perilaku tidak pantas yaitu isi siaran yang mengandung muatan mendorong anak belajar perilaku tidak pantas sebagai hal lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

�Kelima, unsur iklan dewasa yaitu isi siaran dalam program siaran anak dan kartun yang menampilkan produk atau film yang ditujukan untuk penonton dewasa,� papar Iwan Uyun dikutip laman KPI.

Menurut Iwan, tanggungjawab melakukan pemantauan tidak sepenuhnya bisa dipegang oleh KPI. �Kalau saya ditanya apa KPI sanggup memantau free to air dan berlangganan maka saya rasa tidak mungkin. Tanggung jawab dampak isi siaran kan bukan hanya KPI saja tapi tanggung jawab kita semua,� katanya.

Karenanya, kata Iwan, dengan banyaknya kemunculan lembaga-lembaga pemantauan dalam bentuk Media Watch ataupun LSM, hal ini sangat membantu tugas KPI.*

sumber : http://hidayatullah.com/read/29045/20/06/2013/40%25--penonton-tv-usia-anak,-kpi-minta-orangtua-waspada.html

By Admin | Senin, 10 Juni 2013 | Posted in | With 0 comments

Pernahkah Anda mendengar kisah ini? Kisah seorang pemuda yang hidup selama 17 tahun dalam kuburan?

Anda mungkin mengira bahwa ia tinggal di daerah dekat kuburan. Tidak! Dia tidak tinggal di daerah dekat kuburan, tapi ia tinggal di dalam kuburan itu sendiri.

Bagaimana kisahnya? Anda mungkin tidak akan mempercayai kisah ini, karena pemuda ini lahir dari keluarga berada. Ayah dan Ibunya orang yang terpandang dan memiliki kekayaan yang berlimpah.

Dalam pandangan masyarakat sekitar, kedua orang tua ini adalah orang tua yang sempurna, namun orang hanya bisa menilai apa yang tampak. Orang-orang tidak tahu bahwa kedua orang tua terpandang inilah yang memasukkan anaknya ke dalam kuburan dan menjalani hidup selama 17 tahun di dalam kuburan!

Setiap hari, sang anak makan, minum dan tidur di dalam kuburan, yang penuh kegelapan. Sang Anak juga hanya bisa menjalani apa yang diberikan kedua orang tuanya, tanpa perlawanan.

Menjelang ulang tahun pemuda itu yang ke-17, orang tuanya berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan si pemuda sebagai hadiah ulang tahunnya.

Sang pemuda berpikir, inilah saatnya dia akan mengajukan permintaannya, ia tidak ingin lagi tinggal di kuburan, tapi apakah orang tuanya benar-benar akan mengabulkan permintaannya?

Hari itu pun tiba. Sang pemuda berulang tahun yang ke-17. Kedua orang tuanya datang menghampiri dan menanyakan hadiah apa yang ia inginkan. Sang pemuda menjawab, “Ayah, Ibu… saya tidak meminta banyak, saya hanya minta satu hal..” sang ibu menjawab: “Apa, Nak? katakanlah, Ayah dan Ibu pasti akan mengabulkan permintaanmu.”

Anak: “Ayah dan Ibu berjanji?”

“Tentu, Nak. Ayah dan Ibu berjanji akan memenuhi permintaanmu, selama kami mampu.”

Anak: “Ayah… Ibu… saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan.” “Apa? Apa maksud permintaanmu itu, Nak?”

Anak: “Ayah sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku,
dan hanya itu permohonanku, Yah.”

“Iya, Nak. Ayah sudah berjanji… tapi… tapi… Ayah tidak mengerti, Nak.”

Anak: “Ayah, sudah 17 tahun saya tinggal di sini, tapi tidak seharipun saya mendengar Ayah atau Ibu membaca Al-Qur’an. Sedangkan Rasulullah pernah mengatakan bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya adalah seperti kuburan. Saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan, Yah..”

Ayah dan Ibu sang pemuda terdiam.

Anak: “Ayah dan Ibu bahkan tidak pernah mengajariku bagaimana membaca Al-Qur’an. Memang rumah ini mewah, besar dan orang-orang melihatnya sebagai istana. Tapi mereka tidak tahu, bahwa di mata Rasulullah, rumah ini seperti kuburan. Jika Ayah dan Ibu mau menepati janji mengabulkan permintaanku, tolong Yah… Aku tidak ingin lagi tinggal di kuburan. Ajarilah aku membaca Al-Qur’an, agar rumah ini bercahaya dengan cahaya Al-Qur’an..”

Renungan di manakah kalian selama ini makan, minum, tidur dan menetap? di rumahkah? di kos kah? di kontrakan kah? atau kah di kuburan?

karena Rasulullah mengibaratkan rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya, seperti kuburan… Jadi, di manakah sebenarnya kalian tinggal saat ini?

Aamiin Ya Rabbal Alamiin..

Follow Twitter : https://twitter.com/SahabatFillah

sumber : http://mujitrisno.wordpress.com/2013/06/10/selama-17-tahun-tinggal-dikuburan/

By Admin | Sabtu, 01 Juni 2013 | Posted in | With 0 comments



Kedekatan anak dengan orangtua memang diperlukan keseimbangan. Selain dekat dengan ibu, kedekatan anak dengan ayah pun perlu dibangun.

Peran mengasuh anak selama ini lebih bertumpu pada ibu. Padahal, tanggung jawab itu juga menjadi kewajiban ayah. Nah, agar kedekatan berlangsung proporsional, Anda pun perlu membangun keintiman dengan anak. Selain lebih rekat, banyak manfaat lain yang bisa didapatkan dengan adanya hubungan ayah dan anak yang dekat. Berikut ulasannya, seperti diungkapkan psikolog Aliva Abdullah, M.Psi dan dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.

-Ayah akan lebih mengerti kemampuan si anak dengan lebih obyektif, sehingga harapan Ayah juga akan lebih sesuai dengan kemampuan anak. Jika Ayah mengenal anak lebih baik, si Ayah akan tahu kalau anaknya memiliki minat pada bidang lain. Sehingga Ayah tidak akan memaksakan anaknya untuk mengikuti bidang yang tidak diminati oleh anak.

-Kedekatan Ayah dengan anak juga membuka kesempatan bagi Ayah untuk mengajarkan pada anak bagaimana harus terus berusaha namun juga harus bisa menerima diri kita sendiri. Tanpa adanya kedekatan dengan anak, Ayah biasanya hanya terus menyuruh anak belajar lebih baik supaya rapornya bagu atau harus ikut les, dipaksa berusaha ini dan itu, tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada diri anak. Dengan mengetahui kebutuhan si kecil, Ayah akan mampu mencegah masalah anak yang lebih buruk yang mungkin timbul. 

Dalam salah satu penelitian yang diterbitkan dalam American Psychologist, Dr. Louise Silverstein menuliskan bahwa ada bukti korelasi langsung antara ketidakberadaan Ayah dengan meningkatnya tingkah laku agresif pada anak laki-laki dan perilaku dewasa sebelum waktunya pada wanita.

-Anak akan lebih memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang baik. Waktu yang diluangkan Ayah ke anak memberikan pesan berharga bahwa, “Kamu adalah penting bagiku, Nak”.

-Kedekatan Ayah dan anak memberikan pengaruh positif pada anak. Apalagi saat ini anak-anak sangat mudah terekspos dengan berbagai pengaruh dari luar. Bukan hanya bagi anak, kedekatan juga memiliki manfaat positif bagi si Ayah. Memiliki kedekatan dan keberhasilan dalam menjadi Ayah yang baik juga memberikan self esteem yang baik bagi sang Ayah.

-Kedekatan dengan anak-anak juga melepaskan dari rasa penyesalan di kemudian hari, saat anak-anak beranjak dewasa dan pergi mandiri meninggalkan orangtua.

Ayah yang baik akan membina hubungan yang dekat dengan anaknya sejak dini. Jadilah Ayah yang turut aktif dalam pengasuhan anak sehingga anak menyadari keberadaan dan peran Ayah dalam kehidupannya. Dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Anda, waktu yang cukup dan berkualitas, kelak anak pun akan memberikan hal yang sama bagi Ayah. (ind) (tty)

sumber  http://health.okezone.com/read/2013/03/23/483/780374/1001-manfaat-kedekatan-ayah-anak

By Admin | Selasa, 14 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments

Salah satu saat yang penting lainnya adalah saat datangnya fitnah, kata Muhammad Abdul Halim Hamid, yaitu ketika seorang istri merasakan perubahan jiwa pada diri suaminya yang diakibatkan oleh pengaruh para pesolek jalanan yang menggoda. Maka hendaklah ia segera berdandan secantik mungkin. Hal ini dilakukan untuk memagarinya dari fitnah nafsu dan menghindarkan matanya dari melirik wanita lain.

Ada saatnya ketika pulang menemui istri menjadi keharusan. Mungkin tidak lama setelah suami Anda berangkat kerja. Mungkin ketika suami Anda sedang bepergian santai untuk menikmati suasana. Dan ia tiba-tiba pulang menemui Anda karena mengingat nasehat Rasulullah Muhammad Saw., “Jika salah seorang di antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita itu, maka ia harus langsung pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR Muslim).

Maka jika suatu saat suami Anda pulang mendadak dan mengajak Anda untuk melakukan jima’, berbahagialah. Karena suami Anda memelihara cinta dan kesetiaannya kepada Anda. Suami Anda masih menjaga agama dan kehormatan seksualnya. Rasa cintanya kepada Anda mencegah dia dari membiarkan pikirannya terkotori oleh fantasi yang bukan-bukan.

Karena itu, jika suatu ketika suami Anda harus pulang mendadak untuk memperoleh kehangatan dari Anda, segeralah membersihkan diri dan merapikan dandanan. Mintalah suami Anda untuk menunggu Anda berhias sejenak dengan sikap yang mesra, hangat dan menggemaskan. Atau, kalau suami Anda tidak sabar untuk memandangi wajah Anda, biarlah ia tertegun memandangi Anda ketika berhias. Akan tetapi kalau suami Anda tidak sabar menunggu Anda berhias, maka Anda lebih bijaksana. Jangan biarkan ia kecewa karena hasratnya tersendat beberapa saat. Doro- ngan seks laki-laki memang berbeda dengan dorongan seks wanita!

Ekspresi keinginan untuk melakukan hubungan seks antara Anda dan suami Anda memang berbeda!

Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Ra-sulullah Saw. bersabda,

“Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang istri yang diajak oleh suaminya ke tempat tidurnya, tetapi dia menangguhkannya hingga suaminya tidur, maka istri tersebut dalam keadaan laknat.”

Begitulah. Maka ketika suami Anda harus pulang mendadak demi menyelamatkan agama, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda, segeralah menyambut suami Anda dengan kehangatan yang lain daripada hari-hari biasanya. Tunjukkanlah kerinduan Anda kepadanya dan tatapan mata cinta yang menggemaskan, sehingga ia semakin kuat hasratnya. Atau, (kalau anak-anak tak melihat) berikan kecupan hangat yang menggairahkan dan kemanjaan yang membuatnya dekat dengan Anda.

“Sebaik-baik istri kamu,” kata Rasulullah Saw., “ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Dailami dari Anas r.a.).

Sesudah itu, segeralah berhias secantik mungkin hanya untuk suami Anda seorang. Kalau perlu Anda bisa memakai ghumrah untuk mengharumkan pipi sekaligus menjadikannya bersemu merah. Anda juga bisa memakai pengharum kening dan nashiyah (ubun-ubun) sekaligus menjadi-annya tampak menarik. Pakailah gaun yang paling menyenangkan suami. Sebagian suami akan merasa begitu bahagia ketika melihat istrinya menggunakan gaun tertentu. Ia begitu terkesan olehnya.

Berhiaslah secantik mungkin. Tetapi jangan terlalu lama mematut di depan cermin, sehingga menjadikan suami Anda kesal menunggu. Apalagi ia pulang mendadak untuk menemui Anda karena desakan untuk menjaga kehormatan seks dan kesetiaan cintanya!

O ya, jangan lupa wewangian yang menghangatkan semangat. Berilah wewangian pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, ma’athif (antara leher dan geraham), ketiak, lipatan payudara serta kemaluan (kalau sempat). Atau, Anda juga bisa memberi wewangian pada tempat-tempat yang Anda harapkan suami bersemangat mengecupnya. Sebagian istri, sangat menikmati usapan dan kecupan pada tempat-tempat tertentu dibanding bagian lain tubuhnya.

Jika Anda masih menyimpan wewangian yang Anda pakai pada malam pertama, Anda bisa memakainya sekarang sehingga perasaannya semakin terbangkitkan dan mengingatkan pada keagungan jima’ di malam pertama. Jadikanlah saat ini seperti malam pertama atau lebih indah lagi. Semoga Allah memberikan kenikmatan yang paling besar barakahnya pada jima’ yang Anda lakukan saat ini. Semoga Allah semakin menguatkan jalinan perasaan (‘athifah) antara Anda dan suami Anda sehingga mencapai ulfah (keharmonisan). Dan semoga, kelak Anda berdua memperoleh keutamaan di akhirat disebabkan oleh besarnya keinginan Anda untuk membantu suami melaksanakan perintah Rasulullah Muhammad al-ma’shum, yaitu segera pulang dan mengajak istri berjima’ ketika hatinya tergoda di tengah perjalanan. Mudah-mudahan dari sini Allah memberikan keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah (ya Allah, karuniakanlah kepada kami keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah).

Jadi, jadikanlah diri Anda sebagai istri yang paling pandai membangkitkan syahwat suami ketika ia harus pulang mendadak menemui Anda.

sumber: Kupinang Engkau Dengan Hamdallah karya M. Fauzhiel Adhiem

(esqiel/islampos/muslimahzone.com)
sumber : http://muslimahzone.com/ketika-suami-harus-pulang-mendadak/

By Admin | Senin, 13 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments


Ibarat mengemudikan bahtera di lautan, kehidupan rumah tangga kadang harus berhadapan dengan ombak. Sesekali muncul ombak kecil, di kesempatan lain muncul ombak besar. Bahtera yang berlayar di tengah lautan yang luas, dalam menghadapi berbagai terpaan gelombang, kemampuanya untuk merespon dana mengantisipasi gelombang tersebut, berbeda-beda kemampuan, tergantung pada beberapa hal. Diantaranya adalah kekokohan fisik kapal, kemampuan nakhoda dalam mengendalikan kemudi kapal, serta kesigapan para penumpang dalam menghadapi berbagai kemungkinan, ketaatannya pada seruan dan koordinasi nakhoda. Makin kuat dan makin besar ombak dan gelombang menerjang, makin dibutuhkan kelihaian dan kemampuan mengendalikan kapal. Seorang pelaut ulung, yang sudah sering berhadapan dan berhasil mengendalikan ombak, logikanya, ketika kemudia datang kembali omabk, dia sudah terbiasa dan mudah mengendalikannya. Dia sudah belajar dari pengalamannya.
Dalam kehidupan rumah tangga, ujan, ombak, gelombang dan hantaman , bisa datang kapan saja, maka kesiapan untuk menghadapi kemungkinan tersebut harus senantiasa di perhatikan. Perselisihan dan perbedaan pendapat, bisa saja muncul, karena dua insan dengan latar belakang, kesukaan, kebiasaan dan boleh jadi sifat dan karakter yang berbeda, bersatu dalam sebuah wadah. Belum lagi jika kita mengingat perseturuan dan perjuangan yang dilakukan oleh syaithan musuh manusia, dimana dia tidak akan pernah berhanti untuk terus menggoda anak keturunan Adam. Bahkan memisahkan suami dari istri atau istri dari suaminya adalah merupakan prestasi terbesar syaithan.
Ketika terpaksa perselisihan itu terjadi, ada beberapa hal yang harus kita diperhatikan :
1. Tidak boleh menghina, mencaci, dan menjelek-jelekkan pasangan. Hal yang satu ini memang sangat sulit, karena, tabiat manusia ketika sedang membenci seseorang, cenderug akan mengungkap dan menjelek-jelekkan orang yang dibencinya. Tapi islam mengajarkan kepada kita, agar mampu menjaga lisan, tidak keluar kalimat dari lisan kita, kecuali yang baik saja. Bahkan ini merupakan salah satu tanda keimanan seseorang . “ man kaana yu’minuu billahi wal yaumil akhir, fayaqul khairan au liyasmut “ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik, kalau tidak bisa diam.
2. Tidak boleh membuang muka, satu dengan yang lain, dan enggan berbicara lebih dari tiga hari. Suami isteri , sebagaimana seorang mu’min yang lainnya, dilarang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari. Allah memaklumi, bahwa manusia punya kecenderungan untuk lupa, untuk khilaf, untuk berbuat salah, untuk marah, tapi ingat, semua hal itu tidak boleh berkepanjangan, tidak boleh keterusan, harus ada time limitnya. Manusia punya potensi salah, tapi sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera meminta maaf. Jangan memendam marah, jangan memendam emosi, karena bila ini kita lakukan, sesungguhny yang rugi diri kita sendiri. Batin nya menjadi capai, membuang –buang energi, waktu dan tenaga. Jadi kenapa harus nunggu samoai tiga har, jika bisa segera kita memaafkan atau meminta maaf. Yang terbaik diantara keduanya, adalah yang paling dulu meminta maaf, yang paling dahulu bertegur sapa.
3. Meskipun pertengkaran itu begitu hebat, jangan mentolerasi untuk memukul. Dalam ayat alqur’an, Allah hanya membolehkan memukul manakala seoang istri nusyuz, sudah diingatkan masih membangkang, sudah dipisahkan tempat tidurnya masih bandel, maka jika demikian, diperbolehkan memukul ( QS Annisa 34), dengan catatan memukul yang tidak menyakitkan atau tidak menimbulkan bekas. Seperti apakah pukulan yang tidak menyakitkan? Dari Atha, saya mengatakan kepada Ibnu Abbas, apakah yang dimaksud dengan pemukulan yang tidak menimbulkan luka atau tidak menyakitkan? Dia berkata: “ memukul dengan siwak dan sejenisnya” . Dalam masalah ini, sering ada candaan, ya sudah kita pukul saja memakai ATM. Plus kasih tahu nomor PIN nya. Berkaitan dengan masalah ayat 34 surat annisa tersebut di atas, Rasul saw bersabda : “ Wa lan yadriba khiyaarukum” “Mereka yang terbaik tidak akan memukul “ ( Hadis hasan diriwayatkan oleh Ibnu saad dalam Tabaqat dan al Baihaqi dalam Al Sunan). Berdasar hadis ini, ulama menyimpulkan bahwa memukul pada ayat tersebut hukumnya boleh, boleh dianjurkan apalagi diwajibkan.
4. Meminimalisir sengketa/perselisihan dari efek negatif terhadp anak. Seorang anak yang melihat kedua orang tuanya yang bertengkar dan berselisih, hatinya akan merasakan pukulan yang dahsyat , dia terombang ambing, kepada siapa harus melabuhkan kasih sayang. Kepada siapa dia berharap kelembutan dan perlindungan. Yang muncul adalah perasaan takut, dan bila sangat dahsyat pertengkaran atau perselisihan tersebut dilihat oleh anak, boleh jadi akan menimbulkan trauma. Maka, wahai para orang tua, renungkanlah bagaimana perasaan anak. Jangan egois ingin menang sendiri dengan mengorbankan anak-anak, yang masih memiliki masa depan yang panjang.
5. Menyembunyikan rahasia pernikahan. Jika teraksa terjadi perceraianpun, tetap dilarang dan merupakan kemaksiatan dan dosa, membuka rahasia pernikahan dan rahasia pasangan terhadap orang lain. Jagalah dan tutuplah aib saudara. Maka Allah akan menjaga dan menutup aib dirimu.
Demikianlah , betapa Islam mengatur secara rinci, dengan berpegang teguh dan mnentaati adab –adab tersebut, insya allah kita akan selalu merasakan keindahan dalam setiap episode kehidupan rumah tangga. Bangunlah istanamu, bangunlah syurgamu, Baitii jannatii, semoga selalu menjadi kenyataan. Ya Rabb Kami, karuniakan kepada kami pasangan dan keuturan yang senantiasa menjadi penyejuk mat bagi kami, dan jadikan kami sebagai pemimpin bagi orangorang yang bertaqwa. Aamiin.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/08/32897/ketika-perselisihan-itu-terjadi/#ixzz2TErGwv2o 

By Admin | | Posted in | With 0 comments


1.Jika anakmu BERBOHONG,itu karena engkau MENGHUKUNYA terlalu BERAT.

2.Jika anakmu TIDAK PERCAYA DIRI,itu karena engkau TIDAK MEMBERI dia SEMANGAT

3.Jika anakmu KURANG BERBICARA,itu karena engkau TIDAK MENGAJAKNYA BERBICARA

4.Jika anakmu MENCURI,itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.

5.Jika anakmu PENGECUT,itu karena engkau selalu MEMBELANYA.

6.Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN,itu karena engkau BERBICARA TERLALU KERAS KEPADANYA.

7.Jika anakmu MARAH,itu karena engkau KURANG MEMUJINYA.

8.Jika anakmu SUKA BERBICARA PEDAS, itu karena engkau TIDAK BERBAGI DENGANNYA.

9.Jika anakmu MENGASARI ORANG LAIN,itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAPNYA.

10.Jika anakmu LEMAH,itu karena engkau SUKA MENGANCAMNYA.

11.Jika anakmu CEMBURU,itu karena engkau MENELANTARKANNYA.

12.Jika anakmu MENGANGGUMU,itu karena engkau KURANG MENCIUM& MEMELUKNYA

13.Jika anakmu TIDAK MEMATUHIMU,itu karena engkau MENUNTUT TERLALU BANYAK padanya.

14.Jika anakmu TERTUTUP,itu karena engkau TERLALU SIBUK.

sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151508735904355&set=a.10150443443424355.367228.291202364354&type=1&theater

By Admin | Kamis, 09 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments


Pertama kali, saya ajak Anda menyimak kembali kisah yang dibacakan Torey Hayden kepada Sheila, dalam buku Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil, halaman 219 – 226, dalam judul The Little Prince.

* * *

Pangeran Kecil hidup sendirian dalam sebuah planet kecil, bersama sebatang tanaman mawar yang sangat dirawatnya. Ketika Pangeran Kecil berjalan-jalan melihat mawar liar, ia bertemu rubah seekor rubah.

“Kemari, bermainlah denganku,” kata Pangeran Kecil, “Aku sangat sedih”.

“Aku tidak bisa bermain denganmu,” kata rubah, “Aku belum dijinakkan.”

“Ah, maafkanlah aku,” kata Pangeran Kecil, tapi setelah berpikir beberapa saat, dia menambahkan, “Apa artinya itu –menjinakkan?”

“Itu adalah tindakan yang sering diabaikan,” kata rubah. “Menjinakkan artinya menjalin ikatan.”

“Menjalin ikatan?”

“Begitulah,” kata rubah. “Bagiku, kamu saat ini tidak lebih dari seorang bocah kecil yang sama saja dengan ribuan bocah kecil lainnya. Dan aku tidak membutuhkanmu. Dan kamu sendiri tidak membutuhkan aku. Bagimu, aku tidak lebih dari seekor rubah seperti ratusan ribu rubah lainnya.Tapi jika kamu menjinakkan aku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku kamu akan menjadi satu-satunya di dunia. Bagimu, aku akan menjadi satu-satunya di dunia..”

“Hidupku sangat membosankan,” kata rubah.

“Aku berburu ayam, manusia memburuku. Semua ayam sama saja dan semua manusia sama juga. Dan akibatnya aku jadi bosan. Tapi jika kamu menjinakkan, akan terasa seolah matahari menyinari hidupku. Aku akan mengenali suara langkah yang terdengar berbeda dari semua langkah lain. Langkah-langkah lain akan mendorongku bergegas kembali ke bawah tanah. Tapi langkahmu akan memanggilku, seperti musik, keluar dari persembunyianku. Dan coba lihat: Kamu lihat ladang gandum jauh di sana? Aku tidak makan roti. Gandum tidak ada manfaatnya bagiku. Ladang gandum tidak punya arti apa-apa bagiku. Dan itu menyedihkan. Tapi rambutmu berwarna emas. Pikirkan betapa indah jadinya nanti jika kamu telah menjinakkan aku!”

“Butir-butir gandum yang juga berwarna keemasan, akan membuatku ingat kepadamu. Dan aku akan sangat senang sekali mendengarkan suara angin yang meniup butir-butir gandum..”

Lama rubah itu menatap sang Pangeran Kecil.

“Tolong, jinakkan aku!” katanya.

“Aku ingin, ingin sekali,” sahut Pangeran Kecil. “Tapi aku tidak punya banyak waktu. Ada banyak teman yang harus kucari, dan banyak hal yang harus kumengerti.”

“Orang hanya bisa mengerti hal-hal yang dijinakkannya,” kata rubah. “Manusia tidak punya waktu lagi untuk mengerti apapun. Mereka membeli barang yang telah tersedia di toko. Tapi dimana-mana tidak ada toko yang menjual persahabatan, dan karenanya manusia tidak punya teman lagi. Jika kamu ingin punya teman, jinakkan aku..”

“Apa yang harus kulakukan untuk menjinakkan kamu?” tanya Pangeran Kecil. “Kamu harus sabar sekali,” sahut rubah. “Pertama-tama kamu duduk agak jauh dariku –seperti itu– di atas rumput. Aku akan memandangmu dari sudut mataku, kamu tidak boleh bilang apa-apa. Kata-kata adalah sumber kesalahpahaman. Tetapi kamu akan duduk lebih dekat padaku setiap hari..”

Maka Pangeran Kecil menjinakkan rubah. Ketika waktu perpisahan hampir tiba,

“Ah,” kata rubah, “Aku akan menangis”

“Itu salahmu sendiri, aku tidak pernah berkeinginan untuk mencelakaimu. Sama sekali. Tetapi kamu ingin aku menjinakkan kamu..”

“Ya memang begitu,” kata rubah.
“Tapi sekarang kamu akan menangis !” kata Pangeran Kecil.
“Ya memang begitu,” kata rubah.
“Jadi itu tidak mendatangkan kebaikan bagimu sama sekali!”

“Itu baik untukku,” kata rubah. “Karena warna ladang gandum itu.” Lalu ia menambahkan:
“Pergi dan lihatlah lagi bunga-bunga mawar itu. Kamu akan mengerti sekarang bahwa bungamu adalah satu-satunya di seluruh dunia. Lalu kembalilah dan ucapkan selamat tinggal padaku, dan aku akan memberimu hadiah sebuah rahasia.”

Pangeran Kecil pergi untuk melihat lagi bunga-bunga mawarnya.

“Kamu sama sekali tidak seperti bunga mawar milikku,” katanya pada bunga-bunga mawar. “Jadi kamu tidak ada artinya. Tidak ada yang menjinakkan kamu, dan kamu tidak menjinakkan siapa-siapa. Kamu seperti rubahku ketika pertama kali aku mengenalnya. Dia hanya seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tapi aku telah menjadikannya temanku, dan kini ia menjadi satu-satunya di seluruh dunia.”

Dan mawar-mawar itu sangat pemalu.

“Kamu cantik, tapi hampa,” lanjutnya, “Tidak ada yang bersedia mati demi kamu. Tentu, orang yang lewat akan mengira bahwa bunga mawarku tampak persis seperti kamu mawar yang kumiliki. Tapi hanya dialah yang lebih penting dari ratusan ribu mawar lainnya: sebab dialah yang kulindungi di balik tabir, karena demi dialah aku membunuh ulat (kecuali dua atau tiga diantara mereka yang kami selamatkan agar menjadi kupu-kupu). Karena dialah aku mau mendengarkan, ketika dia mengomel atau membual, atau bahkan kadang-kadang ketika dia tidak bilang apa-apa. Karena dia adalah mawarku.”

Dan dia kembali untuk menemui rubah.

“Selamat tinggal,” katanya.

“Selamat jalan,” kata rubah, “Dan sekarang inilah rahasiaku, rahasia yang sangat sederhana: hanya dengan inilah orang bisa melihat dengan benar: Hal apa yang terpenting itu tidak bisa dilihat dengan mata.”

“Apakah yang terpenting yang tidak dapat dilihat dengan mata?” ulang Pangeran Kecil supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

“Waktu yang telah kamu habiskan untuk mawarmu itulah yang membuat mawarmu begitu penting.”

“Waktu yang aku habiskan untuk mawarku..” kata Pangeran Kecil supaya dia yakin akan bisa mengingatnya.

“Manusia telah melupakan kebenaran ini., ” kata rubah. “Tapi kamu tidak boleh melupakannya. Kamu bertanggungjawab selamanya terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggungjawab kepada mawarmu..”

* * *

Sepertinya ada hal-hal menarik yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Bahkan bisa kita kembangkan lebih jauh dan lebih luas dalam konteks relasi suami dan isteri.

Sesungguhnya persahabatan menjadikan seseorang atau sesuatu menjadi istimewa di antara yang lain. Sang rubah menjadi satu-satunya dari ratusan ribu rubah lainnya. Dan sang mawar juga demikian bagi Pangeran Kecil. Anda dapat menjadi yang istimewa dan satu-satunya bagi pasangan anda. Dan sebaliknya, jadikan ia merasa istimewa dan satu-satunya bagi anda.

Untuk menjalin persahabatan, seseorang rela berkorban melakukan apa saja. Persahabatan membutuhkan kesabaran. Anda butuh kesabaran untuk membangun persahabatan dengan pasangan anda.

Waktu yang kita habiskan bersama sahabat adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa dilihat dengan mata. Waktu yang Anda lewatkan bersama pasangan, adalah waktu yang sangat berharga.

Persahabatan akan membawa kesedihan ketika terjadi perpisahan, dan itu wajar. Namun karena spesial, seorang sahabat takkan pernah dilupakan dan senantiasa menyenangkan mengingatnya, dan mengingat segala sesuatu yang mengingatkan pada sahabat, seperti warna ladang gandum. Bahkan menjadikan hal-hal lain yang berhubungan dengannya menjadi bermakna.

Begitulah, Anda dapat pula menjalin persahabatan yang istimewa dengan pasangan Anda. Maka menjadi menyenangkan untuk mengingat segala hal yang berkaitan dengan pasangan Anda. Semoga pasangan Anda pun demikian ketika menganggap Anda sebagai sahabatnya.

Oleh: Ida Nur Laila

sumber : http://www.fimadani.com/menjadi-sahabat-terbaik-untuk-pasangan-hidup/

By Admin | Selasa, 07 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments


�Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.� (Al Ahzab: 4).

SEORANG ibu tetaplah seorang ibu. Manakala menunaikan kewajiban shalat, ada anak yang terus membutuhkannya�utamanya bayi. Bagaimana Rasul SAW mengajarkan ummahat melakukan shalat ketika juga harus menggendong bayi?

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah menjawab, �Shalat wanita sambil menggendong anaknya tidak apa-apa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong karena mungkin anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak menggendongnya.�

Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam juga pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah. Ketika itu Rasulullah shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya. Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan. (Nurun �alad Darb, hlm. 17)

Ini merupakan bentuk kasih sayang terhadap anak-anak dan bayi-bayi. Karena apabila mereka menangis sementara seseorang sedang shalat. Terkadang tangisan mereka menyibukkan dia dari shalatnya. Allah ta�ala berfirman,

�Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.� (Al Ahzab: 4).

Yang harus diperhatikan adalah perkara yang berkaitan dengan syarat suatu kesucian. Bila dia bisa terhindar dari kotorannya, maka tidak mengapa yang demikian. Namun apabila terdapat kotoran padanya, semisal air kencing atau selainnya, maka tidak boleh.

Dan kisah Umamah dikemungkinkan bahwa dia dalam keadaan bersih dari najis kencing atau tahi, sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama rahimahumullah. [Sumber: Anak Amanah Ilahi karya Asy Syaikh Yahya bin Ali Al Hajuri (penerjemah: Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy dan Ummu Abdurrahman), penerbit: Penerbit Al-Husna bekerja sama dengan Al Fath Media, hal. 88-89]

sumber : http://islampos.com/bagaimana-melakukan-shalat-sambil-menggendong-bayi-55525/

By Admin | Senin, 06 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments


Oleh: Alfin Mubarack

TIGA tahun yang lalu, Indonesia dikejutkan dengan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh BKKBN, di manaseparuh dari perempuan lajang  yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia telah kehilangan keperawanannya dan mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan, tidak sedikit yang hamil diluar nikah.

Lebih ironisnya, tak sedikit dari mereka yang berumur dibawah 17 tahun. Fakta menyedihkan ini telah mengancam kehidupan para remaja Indonesia di era globalisasi. Tidak bisa kita pungkiri bahwa penyebab utama terjadinya bencana moral bangsa ini adalah maraknya pergaulan bebas khususnya di kalangan remaja. Lalu, langkah preventif apakah yang dapat membendung serangan pergaulan bebas ini?

Menurut  hasil survey KOMNAS Perlindungan Anak terhadap 4500 remaja di duabelas kota besar di Indonesia pada tahun empat tahun silam, menunjukkan bahwa 62,7 % remaja SMP/SMA sudah tidak perawan atau tidak perjaka lagi. Sungguh fakta yang sangat memprihatinkan. Dimana pada saat itu, kemajuan teknologi yang menjadi faktor utama terjerumusnya para remaja kedalam pergaulan bebas belum begitu maju jika dibandingkan dengan kemajuan teknologi di tahun 2013 ini.

Menurut Ely Risman Psi, selaku tim survey sekaligus ahli psikologi, mengemukakan bahwa perolehan angka prosentase yang sebenarnya pasti lebih besar dari apa yang telah terpublikasikan tersebut. Pasalnya, dari hasil penelitian di tahun 2007, banyak diantara pelaku yang pernah melakukan hubungan seks yang masih duduk dibangku SD kelas empat dan lima. 
Sedangkan prosentase data yang terupdate saat ini, hanya menemukan separuh dari jumlah prosentase seluruhnya. Disamping itu, tidak semua objek survey tersebut  akan berterus terang dan mengakui atas perbuatannya ketika diamati.

Sebelum kita  mencari langkah preventif memcounter ancaman seks bebas ini, ada baiknya jika kita sedikit mempertajam indera penglihatan kita terhadap faktor-faktor yang memicu para remaja untuk menyelami dunia hitam pergaulan bebas.

Ada beberapa faktor utama, salah satunya yaitu kurangnya perhatian orangtua dalam mendidik anak. Sikap orangtua yang dibilang  acuh tak acuh terhadap pergaulan anaknya, tentu sangat mempengaruhi keadaan psikis si anak. Sehingga suatu saat si anak tersebut akan mengalami suatu kondisi dimana perhatian orangtua pada saat itu adalah penentu jalan hidupnya.

Oleh karena itu, Kita dapat dengan mudah melihat perbedaan yang signifikan antara anak yang setiap harinya selalu mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya dengan anak yang jarang dan bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian. Akibatnya, anak yang mendapat perhatian akan menghindar dari pergaulan yang tidak diinginkan oleh orangtuanya.

Sebaliknya, anak yang kurang mendapat perhatian akan merasa bebas dan tidak terkontrol dalam membatasi pergaulannya. Kondisi ini akan mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang semestinya tidak ia lakukan, karena ia merasa bahwa kedua orangtuanya sudah tidak ingin tahu-menahu terhadap perbuatannya.

Melihat tren yang sedang marak di negeri kita ini dan bahkan di negara-negara berkembang atau negara maju sekalipun, seperti tren wanita bekerja di luar rumah meninggalkan anak.

Banyak dari kalangan wanita khususnya yang sudah berumah tangga menghabiskan waktu sehari-harinya untuk bekerja di luar rumah. Dengan kata lain, waktu untuk pekerjaan di luar rumah melebihi dari waktu pekerjaan yang ada di dalam rumah. Bahkan bagi yang tidak mempedulikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, memanfaatkan waktu luangnya di rumah hanya untuk beristirahat dan bersantai dengan alasan beratnya profesi pekerjaan yang harus ia emban di kantor kerjanya sehingga yang tersisa hanyalah setitik tenaga guna menyelesaikan pekerjaan ringan ketika sudah sampai di rumahnya.

Padahal, mendidik seorang anak tidak cukup hanya memberikannya nasihat saja, melainkan pengawasan juga sangat diperlukan.

Tak tergantikan

Sebenarnya, problematika wanita karier sudah tidak  asing lagi didengar hingga saat ini.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa kepentingan karier seorang ibu rumah tangga akan berbenturan dengan kewajiban utama yang ia pikul sebagai seorang ibu yang mendidik putra-putrinya.

Kontroversi ulama fikih hanya sebatas  boleh dan tidaknya seorang wanita bekerja di luar rumahnya. Namun, bilamana pekerjaan tersebut menyebabkan kewajibannya sebagai seorang ibu dari anak atau istri seorang suami terabaikan, maka para ulama sepakat melarang hal ini.

Kita pun menyadari bahwa konsekuensi ini tidak lain demi kebaikan masa depan anak sebagai generasi penerus di era mendatang. Dan itulah amanat dan tanggung  jawab utama yang harus ia emban. Sebab, tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan peran seorang ibu dalam tugas besarnya ini.

Mengingat  besarnya peran seorang ibu dalam mensukseskan masa depan anaknya guna membangun generasi penerus yang bermoral dan maju, maka seorang ibu hendaknya lebih memilih mendidik anak sendiri daripada ia harus menyelami dunia karier demi popularitas nama karena terbawa arus  tren.

Seorang penyair yang bernama Hafidz Ibrahim, yang dikenal penyair sungai Nil berkata, �Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan. Jika Anda mempersiapkannya dengan baik, maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.�

Bahkan seorang Thomas Alva Edison, penemu lampu listrik pertama di dunia, menjadi seorang yang jenius berkat jasa ibunya, Nancy Matthews Edison. Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah tempat ia belajar, akhirnya bisa menjadi seorang jenius yang berpengaruh besar di dunia? Jawabannya adalah ibunya!  Jika di dunia Barat telah menyadari betapa besarnya peran ibu dalam menentukan sikap anaknya, maka dalam islam sendiri pun telah menjelaskan peran seorang ibu terhadap tanggung jawabnya lebih dari apa yang mereka gaungkan.

Seorang ibu yang pintar adalah ia yang mampu mengerti keadaan anaknya. Mendidik anak ada kalanya harus bersikap lembut, dan adakalanya pula harus bersikap tegas dan keras. Hal ini akan menjadi salah satu penguat benteng bagi anaknya agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik dan terkesan bebas. Terkadang problem yang dialami oleh ibu-ibu zaman sekarang, yaitu ketidaktahuannya tentang perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK). Sehingga metode atau cara yang dipakai oleh sang ibu dalam mendidik anaknya yang hidup di zaman modern, adalah metode yang pernah dipakai oleh orangtua ibunya di zaman klasik.

Seorang ibu yang cerdas adalah ia yang tahu bagaimana cara paling efektif mengelola pergaulan anaknya. Tak salah lagi jika pendidikan seorang ibu merupakan akar kebangkitan sebuah keluarga dan bangsa.

Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah bahwa wanita adalah tiang negara. Dengan pendidikan, seorang ibu mampu mengentaskan kebodohan dan melahirkan generasi baru yang berkualitas, dan bermoral tinggi.

Oleh sebab itu, seorang ibu sangat dianjurkan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, bukan berarti esensi dari pendidikan bagi seorang wanita hanyalah untuk 3M saja (masak, merias, melahirkan).

Ironis sekali jika pendidikan berhenti sampai disitu. Bukankah di telapak kaki seorang ibu  surga itu ada? Jejaknya pun akan menuntun anak dan keluarganya ke surga.

Mulai dari langkah sederhana inilah, kita dapat meminimalisir prosentase angka remaja nakal yang terjerumus ke dalam kubangan hitam pergaulan bebas. Tentunya, hal ini sangat mudah bila diterapkan dan dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar ingin merubah jalan hidupnya. Mulai dari diri sendiri, keluarga dekat, hingga orang-orang di luar rumah. Harapan kita, agar bangsa ini terhindar dari pengaruh negatif budaya luar yang sedikit demi sedikit telah merongrong pondasi moral bangsa ini. Semoga, kita senantiasa diberi kemudahan dalam memikul amanat besar sebagai penopang moral bangsa yang luhur ini, Amien.*

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syariah Wal Qanun, Univ. Al Ahgaff, Tarim-Yemen


Red: Cholis Akbar

sumber : http://hidayatullah.com/read/28309/26/04/2013/ibu-rumah-tangga,-solusi-efektif-bendung-kenakalan-remaja.html

By Admin | | Posted in | With 0 comments


Penelitian di Kanada menyimpulkan bahwa anak-anak yang hidup dan besar bersama dua orang tua, lebih cerdas daripada rekan-rekan mereka yang tinggal dengan orang tua tunggal.

Aljazeera melansir hasil studi yang dilakukan oleh peneliti Kanada Institut khusus meneliti masalah otak di Universitas Kalgaa mengahsilkan, bahwa hidup seorang anak bersama dua orang tua di tahun-tahun pertama mengarah pada bertambahnya pertumbuhan sel-sel otak anak.

Para peneliti menunjukkan bahwa manfaat yang terjdi, berbeda antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dijelaskan pula bahwa hidup bersama dua orang tua, bagi anak laki-laki akan membantu pertumbuhan memori yang lebih baik, yang menunjang peran-peran pendidikan. Sedangkan bagi anak perempuan hidup bersama dua orang tua bisa mengembangkan kemampuan mereka dalam koordinasi dan hubungan masyarakat.

Para peneliti menekankan bahwa anak-anak yang hidup dengan dua orang tua, mendapat perawatan dan stabilitas yang lebih baik. Mereka juga lebih terlindung dari kecemasan di tahun-tahun pertama kehidupan mereka.

Para peneliti mengatakan bahwa ini adalah alasan mengapa hidup bersama dua orang tua, lebih meningkatkan pertumbuhan sel-sel otak pada anak laki maupun perempuan.

Para peneliti mengambil sample ini dengan melakukan studi pada tikus. Mereka membagi dua kelompok tikus. Satu kelompok hidup dengan dua orang tua dan kelompok lain hidup dengan satu orang tua. Kemudian mereka meneliti pertumbuhan pertumbuhan sel-sel otak pada anak-anak tikus sejak awal tahun hingga mereka dewasa. Hasilnya ditemukan bahwa tikus yang memiliki jumlah terbesar dari sel-sel otak adalah yang hidup bersama dua orang tua, bukan oleh satu orang tua.

Direktur lembaga, Samuel Lewis, mengatakan kelompok pertama tikus menerima perawatan dan perhatian dari orangtuanya. Dan tikus itu tidak banyak mengalami tekanan mental pada saat kanak-kanak. Sedangkan kondisi instabilitas mental bisa mempengaruhi pertumbuhan otak di kemudian hari.

Namun, para peneliti terkejut bahwa tikus betina yang dibesarkan dengan kedua orang tuanya, ternyata memiliki kemampuan lebih baik dalam merawat keturunannya di masa dewasa.

Dia menyimpulkan bahwa dalam dunia tikus, pendidikan dan lingkungan mempengaruhi secara langsung produksi sel-sel otak pada orang dewasa, sama seperti manusia. (LNA)

sumber : http://tajuk.co/2013/05/kecerdasan-anak-bertambah-bila-dibesarkan-dua-orang-tua/

By Admin | Minggu, 05 Mei 2013 | Posted in | With 0 comments


Istri adalah bunga yang harus tetap mekar di taman hati, hanya dengan cinta kasih dia akan selalu mekar bersemi. Wujudnya tak sekadar mengikuti musim berganti, dia dapat bersinergi dengan terik mentari, angin atau badai sekalipun, asalkan ruang hatinya selalu tersirami dan terpelihara, sehingga mahkotanya akan selalu tegak berdiri mampu menopang bening embun pagi yang senantiasa menggelayuti.
Peran perempuan sebagai istri sekaligus ibu senantiasa terkait. Hak dan kewajibannya harus mampu dipahami agar dia dapat menempatkan diri di setiap tempatnya berdiri. Bahkan perannya sebagai kunci peradaban yang unggul mampu diemban utuh. Istilah peradaban ini dapat diartikan sebagai perbaikan pemikiran, tata krama, dan rasa sehingga menghasilkan pribadi dan generasi-generasi unggul di setiap lapisan zaman yang berganti. Bagaimana seorang perempuan mampu menjadi kunci peradaban, apabila dirinya tak dapat menghargai diri sendiri, tak dapat merubah dirinya kearah yang lebih baik atau tak mau belajar memperbaiki diri, hak dan kewajibannya pun enggan dia pelajari. Simaklah hadits Nabi SAW berikut ini: �Rumahmu mempunyai hak atas dirimu, keluargamu mempunyai hak atas dirimu dan kamu mempunyai hak atas dirimu maka berikanlah kepada para pemiliknya haknya masing-masing.� Hak yang keempat tentu adalah hak Allah SWT. Tempatkan keempat sisi tersebut sebaik mungkin sesuai posisinya, demikian pula dengan segala kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.
Teringat Ummul Mu�minin, sosok teladan muslimah, dialah istri Rasulullah Muhammad SAW yaitu Khadijah binti Khuwailid pantas menjadi wanita terbaik dunia. Perjuangan, pengorbanan jiwa dan harta dalam menegakkan risalah telah membuktikan peran pentingnya sebagai istri dan ibu yang memegang kunci peradaban yang unggul. Sosoknya hadir sebagai pedagang wanita yang tangguh, sekaligus sosok istri yang taat dan ibu yang penuh kasih sayang. Taman surga bagi Khadijah pun disampaikan Jibril melalui Rasulullah. Harum taman surga telah tercium selama hidupnya. Rasulullah merasakan kenyamanan dan ketenteraman bersama Khadijah.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mampukah seorang istri atau ibu menjalani perannya sebaik mungkin, apalagi sebagai kunci peradaban yang unggul? Peran suami mempunyai bagian tersendiri dalam hal membimbing seorang istri untuk memahami peranannya. Apabila sang suami tak pernah membimbing, memberi nasihat-nasihat, meniupkan ruh keagamaan, bahkan menjadi imam dalam shalat lima waktu pun tidak pernah, apalagi sekadar membangunkan untuk shalat malam. Akan sekuat apakah sang istri dalam memahami peranannya? Seorang istri akan selalu mensyukuri jika suami sudah lengkap shalat lima waktunya dan mengaji sesekali, itu sudah cukup bagi istri, begitu sederhananya. Tapi, sekali lagi pertanyaannya: akan sekuat apakah dia? Kodrat istri membutuhkan lebih banyak bimbingan suami. Seperti yang sering kita dengar �arrijaalu qowamuna alannisa� suami adalah pemimpin istri. Lalu, sudahkah para suami membuktikannya?
Sejak awal, kemantapan hati hadir untuk menjadi sepasang kekasih yang selalu ingin sehati dalam suka dan pedih, mewujudkan cita-cita yang telah terpatri untuk diraih dalam keridhaan ilahi. Berdua saling memberi kekuatan, saling melengkapi dengan segala upaya yang dapat direngkuh bersama. Indah bukan ketika pintu hati, bahkan pintu peradaban terkuak akan selalu hadir bunga yang selalu mekar dan mewangi?

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/05/30645/istri-bunga-yang-tetap-mekar/#ixzz2STtTIbbA